Setelah Perancis, China, Inggris dan Itali, Giliran Peneliti Israel Sebut Perokok Memiliki Risiko Rendah Terkena Covid-19


Penelitian di Israel baru-baru ini mengungkap manfaat nikotin pada penderita penyakit virus corona 2019 (COVID-19). Penelitian tersebut mengungkap tingkat infeksi COVID-19 tampak berkurang hingga setengah di antara para perokok.

Hasil tim peneliti yang dipimpin Dr Ariel Israel itu memperbanyak pembenaran hasil riset yang sebelumnya di rilis oleh para ilmuwan di Prancis, China dan Itali. 

Dr Ariel dan timnya telah meneliti data yang melibatkan lebih dari tiga juta anggota lembaga asuransi terbesar di Israel Clalit Health Service.

Dari jumlah itu ada 114.545 orang dewasa yang menjalani tes COVID-19. Hasilnya hanya 4 persen yang dinyatakan positif terjangkiti virus pemicu pandemi global itu.

Peneliti mengungkap 9,8 persen dari yang positif COVID-19 adalah perokok. Penelitian sebelumnya juga mencatat 11,7 persen dari yang positif COVID-19 adalah mantan perokok.

Oleh karena itu peneliti menyimpulkan orang-orang yang memiliki kebiasaan merokok memiliki risiko terkena virus corona persen lebih rendah.

“Kemungkinan infeksi virus corona berkurang sekitar setengah pada perokok, menunjukkan efek perlindungan asli merokok pada risiko COVID-19,” demikian kesimpulan penelitian itu sebagaimana dilansir dari The Jerusalem Post. 

Temuan itu sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan Prof. Zahir Amoura dari Pitié Salpétrière Hospital di Paris. 

Penelitian itu mengungkap 482 pasien COVID-19 yang datang ke rumah sakit pada kurun waktu 28 Februari hingga 9 April, hanya 4,4 persen pasien rawat inap dan 5,3 persen pasien rawat jalan tercatat sebagai perokok.

Penelitian itu menemukan perokok memiliki kemungkinan 80 persen lebih rendah menderita akibat paparan COVID-19. 

“Tampaknya ada efek perlindungan dari merokok pada risiko infeksi COVID-19,” ujar Jean-Pierre Changeux, profesor emeritus pada jurusan neurosains pada Pasteur Institute yang ikut menjadi penulis pada penelitian Prof Amoura.

Sementara University College, London yang melakukan penelitian atas 13 riset di Tiongkok menemukan 6,5 persen dari 5.300 pasien COVID-19 adalah perokok. 

Adapun studi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menemukan dari 7.000 orang yang dinyatakan positif COVID-19, hanya 1,3 persen yang perokok.

Menurut Dr. Konstantinos Farsalinos dari University of West Attica, Yunani, nikotin memiliki efek pada sistem kekebalan yang bisa bermanfaat dalam mengurangi intensitas lonjakan sitokin.

“Potensi manfaat nikotin bisa menjelaskan, setidaknya sebagian, peningkatan keparahan atau hasil buruk pada perokok yang dirawat karena COVID-19 karena pasien itu mengalami penghentian asupan nikotin secara tiba-tiba,” ulasnya. 

Sumber: BABEnews
https://babe.topbuzz.com/a/6836248818216862210

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel