Jadi Ini yang Bikin Kasus Corona RI Nambah 2.000 Lebih...


Penyebaran virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) di Indonesia patut mendapat perhatian. Kemarin, jumlah pasien corona bertambah lebih dari 2.000 orang.

Per 29 Juli 2020, Bertambah 2.381 orang (2,33%) dibandingkan posisi sehari sebelumnya.

Secara nominal, tambahan pasien baru sebanyak 2.381 orang dalam sehari adalah yang terbanyak kedua setelah 9 Juli (2.657 orang). Sedangkan dari sisi persentase, laju pertumbuhan 2,33% menjadi yang tercepat juga sejak 9 Juli.

Setidaknya ada dua kemungkinan mengapa terjadi lonjakan kasus corona. Pertama, pemerintah terus menggenjot tes corona sehingga kasus yang semula terpendam menjadi muncul ke permukaan.

Ini menjadi hal positif, karena bisa diketahui siapa saja yang mengidap virus corona dan bisa dilakukan penanganan, baik itu perawatan di fasilitas kesehatan atau karantina mandiri. Harapannya, rantai penularan bisa diputus.

Mengutip data Worldometer, jumlah uji corona di Indonesia saat ini sudah mencapai 1.447.583 spesimen. Ini menjadi yang tertinggi di antara negara-negara ASEAN.

Namun dengan jumlah penduduk yang lebih dari 270 juta jiwa, baru 5.288 orang per 1 juta populasi yang sudah tersentuh tes corona. Agak tertinggal dibandingkan beberapa negara tetangga.

Oleh karena itu, pemerintah tentunya akan terus melakukan tes. Dengan demikian, jangan kaget kalau jumlah kasus terus melonjak.

"Kalau hanya ingin tampak angkanya kecil, maka tidak usah melakukan testing. Dijamin angka Covid-19 langsung turun. Akan tetapi masalah wabahnya tidak turun, wabahnya tetap jalan terus," tegas Anies Rasyid Baswedan, Gubernur DKI Jakarta.

Kemungkinan kedua, tidak bisa dipungkiri bahwa virus yang awalnya menyebar di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China ini kian menjalar seiring pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Mulai awal bulan lalu, pemerintah mulai mengurangi 'dosis' PSBB dan memperkenalkan hidup normal yang baru (new normal). 'Keran' aktivitas publik kembali dibuka meski terbatas dan harus tunduk kepada protokol kesehatan.

Seiring dengan penerapan new normal, orang-orang yang tadinya #dirumahaja keluar dari 'sarang'. Baik itu kembali bekerja, berdagang, nge-mal, makan di restoran, dan sebagainya. Walaupun belum seperti waktu normal, mulai terjadi penumpukan manusia di berbagai tempat seperti perkantoran, tempat transit transportasi umum, pertokoan, dan lain-lain.

Berdasarkan laporan Covid-19 Community Mobile Report yang dibikin oleh Google, terlihat ada peningkatan jumlah manusia di sejumlah titik. Pada 25 Juli, kepadatan di tempat belanja kebutuhan sehari hari (groceries) dan toko obat tinggal 2% di bawah kondisi normal. Sepekan sebelumnya, angkanya adalah 4% di bawah hari biasa. Terjadi penambahan jumlah orang di sana, ada potensi kerumunan yang meningkatkan risiko penyebaran virus corona

Kemudian di lokasi transit angkutan umum, tingkat kepadatan pada 25 Juli adalah 33% di bawah normal. Sepekan sebelumnya adalah 36% di bawah normal.

Lalu di tempat kerja, kehadiran karyawan pada 25 Juli adalah 12% di bawah situasi normal. Lebih banyak dibandingkan sepekan sebelumnya yakni 18% di bawah hari biasa.

Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat per 29 Juli sudah ada 90 kluster corona di perkantoran Jakarta dengan total kasus berjumlah 459. Angka tersebut menggambarkan kenaikan 10 kali lipat saat pelonggaran PSBB.

Dewi Nur Aisyah dari Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan COVID-19 mengatakan, kebijakan bekerja dari rumah (Work from Home/WfH) dan pembagian jam kerja (shift) bisa dikedepankan dalam menekan penyebaran virus corona di perkantoran. Kalau harus bekerja di kantor (Work from Office/WfO), maka protokol kesehatan jangan sampai kendur.

"Jika suatu perusahaan masih bisa melakukan WfH, maka lebih baik WfH. Jika tidak memungkinkan WfH, maka kapasitas kantor maksimal 50% dan membuat shift dengan jeda 1,5-2 jam agar tidak terjadi penumpukan pada saat kedatangan, kepulangan, dan jam makan siang. Kemudian apabila di ruangan terdapat jendela, maka lebih baik dibuka agar sirkulasi udaranya berjalan lebih baik. Serta memberdayakan Health Safety Environment (HSE) Officer sebagai pengawas protokol kesehatan di suatu kantor," jelas Dewi, seperti dikutip dari siaran tertulis.

Sumber: CNBC
https://www.cnbcindonesia.com/news/20200730001001-4-176390/jadi-ini-yang-bikin-kasus-corona-ri-nambah-2000-lebih

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel